September 27, 2005 - Posted by rinso - 8 Comments
Mumpung banyak isi goody bag dari kursus di NCC yg masih nganggur, kemarin siang aku bikin kue ini, eunak lho. Oh iya, isi goddy bag yg aku gunakan membuat tarte citron ini adalah sebungkus tarte citron dan satu bungkus dellfruit (blueberry) dari nutri prima sejahtera dan cake margarine dari unilever. Yang ambil dari lemari dapurku cuma terigu, whipped cream cair, dan icing sugar. Bikinnya juga gak lama, aku kerjakan setelah Nadya terlelap dalam tidur siangnya.
Yang ini foto versi dari pak Barry dari nutri prima sejahtera.

September 26, 2005 - Posted by rinso - 20 Comments
Biasanya setiap kali lebaran aku pasti ke Ponorogo. Di sana memang tempat lahir mama dan papa, artinya eyangku ada di kota Reog itu. Meskipun sekarang semua eyang-ku sudha almarhum tetapi pergi ke Ponorogo tetap menjadi semacam suatu “keharusan” karena di Ponorogo masih ada bude (kakak-nya papaku) trus mampir ke Madiun juga masih ada bude (kakak dari mama).
Kalau ke Ponorogo tempat yg dikunjungi adalah Gontor. Di ponpes itulah salah satu budeku tinggal (soali suaminya memang jadi kyai di Gontor). Kemudian sate dan gule kambing pak Ni (meski pak Ni-nya dah almarhum tp sate dan gule selera mama-papa ini sampai sekarang masih enak dan sesuai juga dengan seleraku). Sate ayam ngepos. Nah..yg terakhir ini sering jadi impian hahahaha. Kebayang bisa milih jenis sate sendiri, mau daging ayam bagian dada, bagian paha, atau kulit, atau uritan (jerohan), mau yg 1 tusuk hati semua atau 1 tusuk ampela semua, ambil sajahhhh dan lupakan hasil puasa 1 bulan….hehehehe… Bumbu sate-nya juga enak, bukan bumbu kecap seperti kebanyakan sate yang aku tahu lho. Pokoke kalau makan sate ponorogo masih kelihatan jelas dagingnya, soalnya kalau ketutupan kecap semua kan dagingnya jadi hitam legam kena kecap.
Kalau sate ayam nge-pos jadi salah satu tempat wajib untuk dikunjungi (ada pecel-nya juga sih tapi karena daku kalau di ponorogo jadi karnivora sejati maka pecel tak pernah aku lirik) kalau untuk dibawa pulang kita beli sate di pak Tukri. Kalau bulan Syawal apalagi yg berdekatan dengan lebaran, biasanya mesti pesen 1 bulan sebelumnya. Tidak bisa mendadak. Bahkan pesen 50 tusuk sate mendadak aja gak bisa. Harus 1 bulan sebelumnya. Pernah nih aku kangen banget sama sate ponorogo pak Tukri, trus aku titip sate ke Basuki (anak LFM MS’93 yg rumahnya Ponorogo) untuk beli satenya saat dia mudik.
Saking terkenalnya sate ini, banyak orang yg belajar membuat sate di rumah pak Tukri. Salah seorang diantaranya adalah Woto. Woto adalah asisten Om-ku (adiknya papa). Woto sempat ”magang” di rumah pak Tukri dan membawa pulang resep serta cara membuat sate ayam ponorogo. Begitu tahu tentang itu aku langsung telpon mbak Fali (istrinya Om-ku tapi aku dah terbiasa panggil mbak) dan minta resep sate ayam. Berhubung yg turun langsung biasanya Woto maka mbak Fali cuma tahu jenis bumbunya tapi jumlahnya gak tahu pasti.
September 25, 2005 - Posted by rinso - 0 Comments
Bermula dari keinginan suamiku tercinta bernostalgia dengan fish and chips, aku mulai mencari-cari resep fish and chips batter baik dari majalah maupun dari internet. Pencarian sempat terhenti karena waktu baca majalah Femina th 2000 ada info kalau restoran Bistro (deket club store scbd) menjual tepung fish and chips instan ready to use tinggal campur dengan air es. Jadi setiap kali tepung habis aku minta tolong suamiku kalau dinas ke Jakarta mampir ke Bistro beli tepung untuk fish and chips. Tapi kemudian penjualan itu dihentikan dan aku mulai mencari-cari resep lagi. Sempat gak peduli lagi karena di Jakarta banyak tempat makan yg menawarkan fish and chips misalnya di Kemang atau di Fish n Co. Kata suamiku (awalnya sih dari temennya dia juga) fish and chips di Fish n Co (Citos) katanya rasanya dah deket dengan fish and chips yg dikenal sewaktu dia kuliah di Manchester, tetapi sayang sekali, makan di Fish n Co menguras isi kantong (imho fish and chips di Fish n Co emang lebih enak daripada yg di Kemang) plus belum ada tanda halaal di resto-nya.
Alhamdulillah daku menemukan resep fish and chips yang gambarnya menggiurkan di blog-nya Arfi dan bahannya bebas bir. Abisnya setiap kali baca resep di internet, lihat di travel and living, orang sono kalo bikin fish and chips batter pakai bir. Ternyata gambar memang menimbulkan berbagai macam makna ya apalagi kalau berhubungan dengan makanan. Dengan berbekal gambar di blog itu aku yakin kalau batter yang aku cari sudah hampir ketemu.
Jadi akhirnya hari ini aku coba bikin fish and chips dengan resep dari Arfi. Untuk pertama kali aku nyontek plek dari resep yg tertulis di blog itu, tetapi ternyata kurang pas dengan lidah indonesia-ku ini, jadi aku tambahin dan sedikit aku ganti komposisi serta bahannya. Jadinya resep fish and chips batter ala aku seperti yg aku tulis di bawah ini. Maaf ukurannya pakai cup, karena resep dari Arfi emang cup dan kebetulan aku juga suka pakai cup gak perlu repot nimbang, soalnya timbanganku belum Tanita sih

September 24, 2005 - Posted by rinso - 4 Comments
Sebetulnya aku gak daftar untuk ikut kursus ini, selain terlalu sering mengajak Nadya untuk “membolos” sekolah di hari Sabtu, pekan sebelumnya aku sudah ikutan kelas bolu gulung dan spesial cookies di NCC. Tetapi kemarin malam mbak Fatmah menelpon aku dan akhirnya aku berangkat ke Matraman Dalam dengan girang. Gimana gak girang, pertama kali di release daftar kursus ini yg daftar 25 orang dan waiting list-nya lebih dari 20 orang. Makanya aku bersyukur sekali dan merasa sangat beruntung mengikuti kelas ini.
Kelas dimulai pukul 10.03 dan pertama kali yang dikeluarkan adalah (sangat tidak sopan sodara-sodara) Tarte Citron. Tart yang sudah dipotong-potong ini betul-betul menerbitkan air liur. Yummyyyyy banget. Kita diminta untuk icip-icip Tarte Citron yang ternyata rasanya memang se-endang rupanya. Gak rugi deh… . Eh iya, apa beda tart dengan pie hayo….

Kemudian bikin puding. Pertanyaan dari pak Barry (beliau-lah yang mengajar kita untuk kelas Nutri Prima Sejahtera ini sedangkan pak Tono adalah bagian yg melihat harga jual produk Nutri setiap kali para ibu dan 1 bapak karena ada Handika menanyakan harga produk hehehe) adalah apa beda puding, agar-agar, jeli dan gelatin. Ternyata puding itu seperti pada puding karamel tapi tanpa karame, kalau agar-agar itu seperti swallow globe, kalau jeli itu bisa dari konyaku, kalau gelatin adalah pengikat yg terbuat dari sumsum tulang hewan. Untuk bikin puding mangga dan melon ternyata guampang banget, tinggal menggunakan Tropical fantasy (bisa manggo bisa melon) kemudian campur dengan air panas, aduk-aduk dan voila….jadilah puding buah yang mantappp. Bau buahnya bener-bener seperti kalau kita membuat jus melon, cuma bedanya ini jus hangat, pan pakai air hangat nyampurnya, hehehe.

Kemudian setelah demo puding selesai sekarang mulai bikin cake dengan menggunakan Black Soft. Tepung keluaran NPS ini bisa dibuat untuk brownies, untuk cake alas tiramisu, dikukus juga enak. Oh iya, selain product knowledge banyak sekali ilmu yg diberikan pak Barry kepada kita-kita, misalnya bagaimana cara mengutak-atik resep, tips-tips selama membuat cake, asal mula nama tiramisu, apa itu brownies (pak barry porotes keras waktu ada yg bilang brownies kukus, itu sama halnya dengan black forest kukus, aduh pak Barry ibu-ibu ini terutama saya, kan ilmunya masih cethek banget jadi kita beruntung dapat informasi seputar kuliner), trus tak lupa juga apa beda sus, eclair, sus kering, dll, lengkap kap kap, kita tertegun mendengar penjelasan dari pak Barry yang diselingi dengan joke-joke segar (ini ternyata ada juga cerita dibalik kenapa chef di hotel harus suka bercanda). Sambil menunggu black soft dibakar dan dikukus tiramisu yang sudah dibuat sehari sebelumnya mulai beredar dan seperti biasa….. icip-icip lageeeeee.

Sementara menunggu Black Soft dipanggang dan dikukus dan tiramisu-nya sudah habis pak Barry mengeluarkan Peach Passion-nya yang sudah dingin di lemari es. Sodara-sodara, demi untuk demo ini pak Barry sudah datang hari Jumat untuk “berkenalan” dengan alat-alat masaknya mbak Fatmah supaya pada hari H yaitu hari ini, pak Barry tidak canggung lagi dengan dapurnya mbak Fatmah. Back to Peach Passion, white sponge itu sudah dilapisi dengan peach passion (komposisinya ada di resep di depanku, males nyalin hehehe) trus dihias. Kue cantik itu dihias dengan decor gel yg tidak perlu dimasak, kalau gel yg perlu dimasak namanya Belnap (bener pak Barry, pak Tono ?). trus dikasih coklat di sekelilingnya. Bener nih, jadi cake yang biasa nangkring di show case di hotel-hotel euy. Setelah jadi kue yg cantik Peach Passion itu dengan tega dipotong oleh pak Barry dan dibagi ke kita. Asiikkkkk icip-icip lagi, nyum-nyum-nyum. Waduh…dari tadi icip-icip mulu nih, selain keburu kenyang, ntar jangan-jangan jatah makan siang yang dibungkus untuk dibawa pulang….

Setelah Peach Passion habis disikat ibu-ibu, pak Barry kembali beraksi. Kali ini pak Barry membuat krim untuk tiramisu dan krim untuk membuat cake sejenis Peach Passion tetapi menggunakan rasa lain yaitu strawberry. Krim tiramisu-nya dibuat dari Fond Tiramisu, sedangkan untuk strawberry dibuat dari Fond Strawberry. Saat membuat Royal Strawberry, pak Barry kembali memberi tips bagaimana supaya filling-nya (dari NPS juga, macem-macem lho dan uenak-uenak, tadi kita mencicipi dark cherry dan blueberry) bisa rata di kue, yaitu krim-nya bukan dioles dilapisan kue tetapi dispuit seperti bentuk obat nyamuk bakar. Kemudian nanti filling-nya juga di pakai kantong segi tiga dan mengisi bagian yg kosong. Dengan cara seperti itu filling bisa terdistribusi dengan merata. Oh iya, ada juga tips, untuk mendekor sebaiknya ukuran sponge lebih kecil daripada ring, supaya nanti cake bisa dilepas dengan mudah dan bagian tepi tertutup rapi dengan cream. Buat aku yg pemula tips-tips seperti itu menjadi informasi yang amat sangat berguna (itu sebabnya juga aku tulis di sini biar tetep inget).

Langkah selanjutnya adalah acara yang juga ditunggu-tunggu oleh lambung, lunch time. Yup, meskipun sudah makan tart, tiramisu, peach, tetapi karena belum makan nasi rasanya perut masih berontak
Kemudian setelah semuanya kenyang pak Barry kembali berdiri di depan kelas dan mulai demo bikin tarlet citron (krn cetakannya kecil). Oh iya sembari demo pak Barry dengan riang gembira dan bahagia membagi-bagikan resep di luar rencana lho, ada resep brownies asli yg pakai madu (seperti ceritanya Ena tempo hari), ada juga quiche, dan fotokopian yg isinya kue kering yg kata pak Barry dijamin uenak. Sambil menunggu adonan kulit untuk tarlet di oven, pak Barry memasukkan krim-krim ke dalam gelas. Begitu tarlet udah mateng ya ampunnnnnn aku masih ambil itu tarlet dan yum yum yum masuk lagi ke mulut mungilku (huahahahaha), enak…. Trus pas udah siap-siap pulang (karena acara terakhir adalah membuat tarlet sitron) eh strawberry-nya dikeluarkan dari kulkas (itu lho yg tadi fillingnya di isi dengan pola obat nyamuk bakar) dan jelas dong, dipotong-potong dan dibawa pulang. Eh iya, selain pulang membawa ilmu pengetahuan yang tadi sudah dibagi, trus goody bag yg isinya cake, puding dan krim, ternyata NPS memberi hadiah berupa tarte citron dan bubuk tiramisu. Waduh…bisa bikin tarlet citron nih, soalnya dibungkusin juga blueberry dan dark cherry.

Alhamdulillah, aku bener-bener beruntung ikutan demo dari NPS ini. Pak Barry juga menjanjikan untuk memberi resep ice cream yg low fat, ehmmmm boleh juga tuh (ihik ihik yg mau sok diet). Foto-fotonya nunggu dulu ya, gak bisa upload dari rumah nih, matrix-nya dah luambat buanget, harus ke margonda atau ke warnet.
September 23, 2005 - Posted by rinso - 9 Comments
Awalnya sih mau bikin cup cake yang beda, ada isinya, jadi bisa bikin kejutan. Setelah membaca tulisan mbak Ine di milis NCC tentang butter cake yang kuat untuk isian dan posting Ruri pagi ini tentang Cinnamon Cake, jadinya daku tergerak bikin blueberry cup cake. Bahan dasarnya pakai butter cake II ala mbak Fatmah (aku dah pernah posting di kue iseng) tinggal nambah blueberry paleta atau patisier aja dan jadilah cup cake yang super duper yummyy ini….

September 22, 2005 - Posted by rinso - 8 Comments
Resep ini aku dapatkan saat kursus Browines di Bandung 5-6 tahun yang lalu. Kursus iseng sama Vietha dan ternyata enak juga nih brownies-nya. Selain itu gak perlu pakai mikser.

September 20, 2005 - Posted by rinso - 0 Comments
Karena mas sering pergi ke Indonesia Tengah dan Timur yang kondang dengan masakan ikan, maka suatu hari dia nyeletuk kepingin dibikinin sambal dabu-dabu. Udah search di internet dan menemukan resep. Percobaan pertama katanya sih enak, tapi dengan catatan : Gak pakai cabe merah besar, soali selama di Kendari, Bunaken, dan daerah lain sambal dabu-dabunya gak pakai cabe merah besar. Kemudian nyoba lagi sesuai dengan special request tadi dan jadilah sambal dabu-dabu ala rina. Jadinya sekarang sambal dabu-dabu ala rina ini sering muncul di meja makan.
